Bisnis Angkutan Barang 2021, Ongkos Sempat Capai Titik Terendah

43

Bisnis Angkutan Barang 2021, Ongkos Sempat Capai Titik Terendah

Pandemi Covid- 19 sudah terlanjur berdampak lesunya kegiatan perekonomian nasional selama lebih dari satu tahun.

Sektor distribusi logistik jadi salah satu yang menerima imbas parah akibat pandemi Covid- 19. Usai alami masa- masa sulit semenjak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar( PSBB) di 2020, nyatanya keadaan belum sepenuhnya pulih di tahun berikutnya.

Pada 2021, perusahaan angkutan barang mulai kehabisan tenaga buat bangkit, walaupun perekonomian nasional diklaim mulai tumbuh ke arah yang positif.

Bambang Widjanarko, Wakil Ketua Aptrindo Jateng& DIY, mengatakan, pandemi Covid- 19 telah terlanjur berdampak lesunya aktifitas perekonomian nasional selama lebih dari satu tahun. Dampaknya, pengguna jasa angkutan barang menekan ongkos angkut sampai titik paling rendah.

” Banyak pengusaha truk berpikir berapa pun ongkosnya akan diangkut daripada tidak ada muatan sama sekali demi menghidupi perusahaan serta karyawannya. Hal ini jadi salah satu aspek rusaknya struktur ongkos muat semenjak awal pandemi,” ucap Bambang dikutip Kompas. com, Jumat( 14/ 1/ 2022).

Dia menuturkan, tarif yang ditawar oleh pengguna jasa angkutan barang hanya cukup buat menjalankan operasional termasuk penggajian karyawan secara pas- pasan. Padahal, pengusaha truk turut harus berhadapan dengan kenaikan berbagai harga suku cadang truk, pelumas, sampai ban selama pandemi Covid- 19. Bambang menyebut, kenaikan harga berbagai kebutuhan perawatan armada truk mencapai rata- rata 20 persen.

” Kami pula harus berhadapan dengan harga sparepart truk, oli- oli, serta juga ban yang naik selama 1, 5 tahun ini, dengan kenaikan harga dapat mencapai 20 persen,” kata dia melanjutkan.

Sementara itu, pengusaha truk tidak mempunyai dasar penawaran yang kuat terhadap negosiasi ongkos angkut muatan. Alasannya, ongkos angkut muatan baru bisa dinaikkan bila ada kenaikan harga biosolar sebagai bahan bakar utama armada angkutan barang.

Baca Juga :  SiCepat Ekspress Akan Bertransformasi Jadi Perusahaan Digital Tahun Ini

” Vendor( pengguna jasa angkutan barang) biasanya tidak peduli dengan kenaikan harga sparepart, oli, ban, buat perawatan truk. Sebab dasar alasan mereka guna menawar ongkos angkut muatan yaitu harga biosolar. Selama( harga) biosolar tidak naik, vendor tetap bertahan dengan ongkos angkut yang murah,” ucap Bambang.

Padahal, penggantian sparepart, pelumas, sampai ban truk dengan mutu yang baik bertujuan demi keamanan serta keselamatan sepanjang proses distribusi barang. Terlebih, kecelakaan truk yang terjadi di selama 2021 umum disebabkan rendahnya perawatan serta pemakaian suku cadang bermutu rendah.

” Pengusaha truk cuma dapat mengikuti standar ongkos angkut sepanjang masa pandemi ini, demi dapat tetap melakukan kegiatan angkut muatan serta tidak ada truk yang menganggur. Mengingat armada yang dipunyai belum 100 persen berjalan,” kata Bambang.

Bambang mengkhawatirkan, pengguna jasa angkutan barang akan terlanjur nyaman dengan standar ongkos angkut muatan sepanjang masa pandemi. Perihal ini dapat berakibat pada sulitnya sektor distribusi logistik untuk bangkit kembali.