Deretan Fakta Mengejutkan Pelabuhan Patimban, Mega Proyek Bernilai Puluhan Triliun

54

Inilah deretan fakta mengejutkan pelabuhan Patimban, pelabuhan terbesar dan sebagai mega proyek bernilai puluhan Trilliun.

Pelabuhan Patimban akan menjadi pusat pertumbuhan kota metropolitan baru dalam pengembangan segitiga emas Cirebon, Patimban, Kertajati (Rebana) serta diharapkan dapat menciptakan kurang lebih 4,3 juta lapangan pekerjaan baru yang terdiri dari pekerjaan dalam kawasan industri dan juga sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.

Pelabuhan ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas khususnya untuk ekspor-impor produk kendaraan di Pelabuhan Tanjung Priok. Selama ini, kendaraan berat termasuk angkutan ekspor-impor kendaraan menyumbang pada kemacetan lalu lintas khususnya ruas antara Bekasi dan Tanjung Priok.

Kawasan Segitiga Emas Cirebon-Patimban-Kertajati atau yang lebih dikenal dengan Rebana diproyeksikan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terbesar di Indonesia dengan dukungan konektivitas Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati.

Pelabuhan Patimban adalah sebuah pelabuhan yang sedang dibangun di Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pelabuhan Patimban direncanakan akan dibangun dengan kapasitas 2,74 juta TEU diatas lahan sebesar 300 hektar. Total dana yang dibutuhkan diperkirakan mencapai 43,22 triliun rupiah.

Pelabuhan Patimban yang baru saja resmi diluncurkan oleh pemerintah ternyata menyimpan segudang fakta mengejutkan yang wajib untuk diketahui.

Pemerintah telah resmi meluncurkan Pelabuhan Patimban, Jawa Barat. Pelabuhan ini digadang-gadang menjadi pelabuhan terbesar menyaingi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan sinergi dari kedua pelabuhan tersebut diharapkan dapat mengefisiensikan waktu dan biaya logistik. Khususnya, untuk menekan biaya logistik nasional dan meningkatkan efisiensi biaya ekspor produk Indonesia ke luar negeri, seperti produk otomotif. Adapun, lokasi Pelabuhan Patimban di Subang Jawa Barat berada di antara Jakarta – Cirebon dan dapat ditempuh melalui jalan tol, jalur Pantura, dan jalur kereta api.

Sementara, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan yang kami kutip dari bisnis.com mengatakan dalam menghadapi Asean Connectivity 2025, Pelabuhan Patimban diharapkan dapat berkolaborasi dengan Pelabuhan Tanjung Priok karena saat ini aksesibilitas waktu tempuh dari Kawasan Industri Jawa Barat ke Pelabuhan Tanjung Priok dapat mencapai 4 hingga 5 jam.

foto : antaranews

Tujuan utama pembangunan Pelabuhan Patimban untuk mengurangi traffic existing di Pelabuhan Tanjung Priok yang mengakomodir 52 persen dari lalu lintas kontainer internasional di Indonesia. Pelabuhan Patimban yang terkoneksi dengan jalan tol dapat mengangkat potensi pembangunan 10 kawasan industri prioritas di sepanjang Koridor Utara Jawa. Bisnis.com merangkum sejumlah fakta menarik terkait pelabuhan di utara Jawa Barat tersebut.

Baca Juga :  Pelindo Naikkan Tarif Pas Pelabuhan Mulai 1 Januari 2022

Pertama, Patimban adalah proyek tahun jamak dengan nilai investasi fantastis. Pembangunan Pelabuhan Patimban sudah dimulai sejak 2019 dan diselesaikan secara bertahap hingga ditargetkan rampung pada 2027.

Ketiga, Pelabuhan Patimban juga dinilai berada di lokasi yang cukup strategis. Pelabuhan ini berlokasi di Subang Jawa Barat yang berada di antara Jakarta – Cirebon. Selain itu, Patimban juga terkoneksi dengan jalan tol sehingga dapat mengangkat potensi pembangunan 10 kawasan industri prioritas di sepanjang Koridor Utara Jawa.

Keempat, membuka lapangan kerja baru hingga 200.000. Penambahan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat khususnya akan dirasakan bagi yang berdomisili di sekitar pelabuhan. Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan bahkan sesumbar dalam 10 tahun ke depan, Pelabuhan Patimban dapat membuka lapangan kerja hingga 4,3 juta.

Kelima, Patimban menjadi hub utama bagi proyek segitiga rebana Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama dengan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Selain itu, Pemprov Jawa Barat menargetkan akan membangun kota penyangga pelabuhan dengan estimasi dapat menampung 1 juta penduduk.

Keenam, pada periode operasi awal, Patimban akan dapat melayani bongkar muat di terminal kendaraan sebanyak 218.000 completely built unit (CBU) kendaraan per tahun dan terminal kontainer 250.000 TEUs per tahun. Adapun, ketika sudah mencapai kapasitas ultimate, Patimban dapat melayani 600.000 CBU per tahun dan 7,5 juta TEUs.

Ketujuh, calon operator Pelabuhan Patimban sudah dapat dipastikan diisi oleh konsorsium yang dipimpin CTCorp sebagai satu-satunya peserta prakualifikasi lelang yang lolos ke tahap lelang operator. Adapun, operasi sementara hingga beralih kepada pemenang lelang dilakukan oleh KSOP Kelas II Patimban dibantu tenaga profesional dari Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC) dan Jepang. Konsorsium yang disebut sebagai Konsorsium Patimban ini terdiri dari PT CTCorp Infrastruktur Indonesia, PT Indika Logistic & Support Services, PT U Connectivity Services, dan PT Terminal Petikemas Surabaya.


Baca Juga :  Pelabuhan Patimban Telah Sah Sekarang Dikelola Swasta