Dimasa Pandemi, Pelayaran Asing Untung Besar

45

Dimasa Pandemi, Pelayaran Asing Untung Besar

Sektor pelayaran dan logistik menghadapi karut- marut situasi perdagangan internasional yang tidak bersahabat. Shipping line internasional sebab bukan lagi jadi partner yang baik bukan hanya soal kelangkaan container melainkan pula permasalahan kapal yang tidak dioperasikan. dengan memainkan tarif. Perihal ini disangka jadi upaya untuk mencari keuntungan setinggi- tingginya di masa pandemi

Kalangan eksportir dan logistik di Jawa Timur menilai kalau keadaan mahalnya tarif ocean freight disaat ini telah dijadikan ajang kesempatan bagi shipping line internasional dalam pengambilan keuntungan besar.

Dikutip bisnis. com, Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia( ALFI) Jatim Hengky Pratoko berkata sepanjang 2 tahun terakhir ini sektor pelayaran dan logistik menghadapi karut- marut situasi perdagangan internasional yang tidak bersahabat.

Ia menyayangkan terdapatnya move- ment ataupun gerakan yang dibikin oleh shipping line internasional karna bukan lagi jadi partner yang baik dengan memainkan tarif untuk mengambil keuntungan yang sangat tinggi di tengah pandemi.

Baginya, yang terjadi bukan cuma soal kelangkaan container melainkan pula permasalahan kapal yang tidak dioperasikan. Perihal itu diduga jadi upaya buat mencari keuntungan setinggi- tingginya di masa pandemi.

“ Mereka melakukan ini tidak cuma 1—3 bulan, malahan bisa seterusnya,” ucapnya kepada media di Surabaya, Rabu( 19/ 1).

Berdasarkan data ALFI, tarif kargo dari Asia ke Eropa berkisar US$11. 900 FEU( forthy equivalent unit) ataupun sudah turun dari tadinya US$23. 000 FEU. Sebaliknya tarif rata- rata dari Indonesia ke Eropa US$25. 000 FEU ataupun lebih tinggi dibanding dengan tarif Asia ke Eropa.

“ Tarif dari Indonesia ke Eropa yang masih tinggi ini dimanfaatkan oleh pelayaran container asing yang baru- baru ini memasukan repositioning empty kontainer 8. 000 boks ke Jakarta serta Surabaya 400 boks,” katanya.

Baca Juga :  Sislognas Tidak Jalan, Program Pemerintah Menurunkan Biaya Logistik Susah Tercapai

Baginya, adanya upaya repositioning empty container atau pemindahan petikemas kosong itu seolah- olah menolong pemerintah, padahal harga pasar di Indonesia masih tinggi dibanding dengan di luar negeri dengan selisih berkisar US$8. 000.

“ Perihal itu cuma kamuflase serta bukan jawaban dari kelangkaan container untuk eksportir paling utama kelas ekonomi menengah, mengingat dalam praktiknya tidak ada jaminan space ataupun ruang pada kapal sehingga harga jadi ajang permainan serta mendapatkan jaminan space jadi rebutan,” katanya.

Hengky mengatakan kalau tarif ocean freigt disaat ini malahan lebih tinggi dari awal pandemi. Ia mencontohkan bila dahulu tarifnya rata- rata cuma US$2. 000 per TEUs saat ini naik jadi 300%—400% ataupun jadi US$8. 000—US$10. 000 per TEUs.

“ Tujuan yang lebih jauh menaiknya lebih luar biasa, contoh ke Eropa seluruh cuma US$2. 000 per TEUs saat ini jadi US$25. 000 per TEUs. Ke Amerika Serikat lebih edan lagi naik hingga 800%,” katanya.

Wakil Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Manufaktur Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia( GPEI) Jatim Ayu. S Rahayu menuturkan yang berlangsung terhadap pelayaran internasional disaat ini ialah memberlakukan space kapal dengan skala kelas, dan yang paling tinggi ialah kelas premium.

“ Beberapa pelayaran memberlakukan space premium, kemudian itu harus tambah biaya baru untuk dapat space, lalu memberlakukan ketentuan limit dengan rate berlapis, misalnya barang yang dikirim 15 ton itu biaya sekian, jika lebih 15—17 ton itu rate- nya tambah US$1. 000, jika di atas 17—20 ton itu tambah lagi, sehingga untuk komoditas tertentu itu cost- nya dapat lebih tinggi lagi,” ucapnya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, keadaan lain yang dirasakan para eksportir yakni terdapatnya kenaikan tarif LoLo( lift on- lift off) atau aktivitas bongkar muat kargo dari truk container ke kapal serta sebaliknya, termasuk cancellation cargo atau pembatalan pengiriman akan dikenakan penalti dengan biaya tinggi.

Baca Juga :  Bisnis Tambang Meningkat, Indonesia Kendaraan Terminal( IPCC) Panen Kargo Alat Berat

“ Kenaikan LoLo juga sudah naik 2 kali lipat, jadi dari segala unsur aktivitas ekspor yang berurusan dengan shipping line, bukan hanya depo, LoLo, tetapi juga aturan pinalty yang tadinya tidak setinggi sekarang yang ujung- ujungnya yakni duit,” imbuhnya.

Sedangkan itu, Ketua Indonesian National Shipowners’ Association( INSA) Surabaya Stenvens Handry Lesawengen yang mewakili pelayaran internasional mengatakan kalau keluhan para pengguna jasa transportasi laut internasional itu perlu didengar sehingga pihak pelayaran perlu melakukan introspeksi serta berbenah terhadap situasi yang terjadi disaat ini.

“ Selaku partner bisnis terdekat, saya rasa kita perlu mendegar keluhan itu. Jika memanglah demikian pihak pelayaran perlu intropeksi serta berbenah terhadap situasi yang terjadi sesuai yang dikeluhkan oleh teman- teman pengguna jasa,” katanya.

PROYEKSI
Ketua GPEI Jatim Isdarmawan Asrikan menambahkan semestinya kinerja ekspor Jatim dapat lebih tinggi dengan kenaikan 25% bila situasinya normal ataupun tidak terdapat kenaikan ocean freight.

“ Jika situasi normal, saya prediksi kinerja ekspor kita dapat tumbuh 25%, namun sebab permasalahan ocean freigt itu, ekspor kita 2021 hanya tumbuh 16, 59%, ditambah lagi keadaan ini membuat harga barang kita tidak kompetitif lagi,” katanya.

Isdarmawan menerangkan kalau disaat ini eksportir hanya dapat melakukan negosiasi terhadap buyer mengenai tarif ocean freigt tersebut dengan jalan tengah melalui sharing biaya pengiriman. Bila tidak ditemui solusi, umumnya buyer akan membatalkan order.

GPEI maupun ALFI juga menganjurkan kepada pemerintah supaya melakukan pendekatan serta berkomunikasi dengan prinsipal pelayaran serta memberikan warning serta melakukan blacklist terhadap pelayaran asing yang tidak kooperatif serta aji mumpung terhadap pengusaha Indonesia.

Tidak hanya itu, pemerintah dimohon untuk bergandengan tangan misalnya dengan masyarakat ekonomi Eropa, dan melaporkan ke WTO karena dalam perdagangan tidak mengatur tentang komoditas saja namun juga termasuk bidang jasa, termasuk jasa pelayaran.

Baca Juga :  Kemenhub Tambah Angkutan Udara Perintis Tahun Ini