Ekspor Industri Pengolahan Pada 2022 Masih Terkendala Masalah Logistik Global

45

Ekspor Industri Pengolahan Pada 2022 Masih Terkendala Masalah Logistik Global

Kebijakan penghiliran yang terus didorong pemerintah diprediksi memompa kontribusi industri manufaktur pada kinerja ekspor Indonesia. Industri pengolahan berpotensi terus berkontribusi positif pada kinerja perdagangan luar negeri, termasuk jadi penopang surplus neraca perdagangan. Produk penyumbang ekspor terbanyak merupakan produk industri pengolahan yaitu produk minyak sawit, besi serta baja, otomotif, dan elektronik. Tetapi beberapa pelaku industri mengeluhkan kendala ketersediaan container yang terbatas serta kenaikan biaya pengapalan telah membatasi perkembangan produksi ekspor.

Kinerja ekspor produk industri pengolahan pada 2022 diperkirakan masih terganjal kendala kelangkaan container serta mahalnya biaya pengapalan. Pelaku usaha berharap pemerintah dapat memitigasi hambatan ini supaya pelaku usaha dapat menggunakan momentum pertumbuhan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik( Inaplas) Fajar Budiono yang dilangsir bisnis. com mengatakan kendala ketersediaan container yang terbatas serta kenaikan biaya pengapalan sudah membatasi pertumbuhan produk plastik. Data sementara Badan Pusat Statistik( BPS) menunjukkan ekspor produk plastik tumbuh 11, 13 persen dari US$2, 60 miliyar pada 2020 jadi US$2, 89 miliyar pada 2021.

” Seharusnya pada 2021 kenaikan sanggup lebih dari sekitar 10 persen. Ini sebab terdapat kendala container serta mahalnya biaya pengapalan. Kami memperkirakan 2022 masih mengalami kendala yang sama,” katanya, Selasa( 18/ 1/ 2022).

Ia menuturkan rute serta frekuensi pengapalan pada 2021 cenderung terbatas sebab terpusat ke Cina. Kendala pengapalan, lanjutnya, hanya dapat diurai bila terdapat mitigasi lanjutan dari pemerintah ataupun kebijakan langsung dari Cina untuk mereposisi container.” Container banyak yang menumpuk di Cina. Selama tidak terdapat rotasi, masih bakal tidak gampang untuk kami guna mendorong ekspor,” katanya.

Baca Juga :  Sislognas Tidak Jalan, Program Pemerintah Menurunkan Biaya Logistik Susah Tercapai

Fajar mengatakan hambatan di sisi logistik membuat Indonesia kesulitan memanfaatkan momentum Perang Dagang Amerika Serikat serta Cina. Ia mengatakan permintaan dari negara- negara afilisasi Amerika Serikat cenderung menaik sebab pengusaha mengalihkan pasokan dari negara dengan bea masuk yang lebih rendah.

” Tahun 2021 kinerja produksi kurang memuaskan, mudah- mudahan 2022 terdapat kenaikan yang cukup baik. Ekspor masih bakal didominasi produk olahan, mungkin bisa 85 persen olahan,” katanya. Sebagaimana dirasakan oleh sektor lain, Joko menuturkan ekspor produk sawit pula mengalami tantangan logistik. Ia mengatakan biaya pengapalan cenderung naik walaupun ekspor produk minyak sawit tidak banyak bergantung dengan ketersediaan container. Sebelumnya, perwakilan Gapki di Indonesian Palm Oil Conference( IPOC) 2021 memperkirakan harga minyak sawit mentah( crude palm oil/ CPO) masih bertahan di atas US$1. 000 per ton pada 2022. Harga yang stabil tinggi didorong oleh meningkatnya permintaan, sedangkan produksi diramal tumbuh lebih rendah. Produksi CPO Indonesia diramal naik 2, 95 persen dari 46, 62 juta ton pada 2021 jadi 48 juta ton pada 2022. Jikalau ditambah dengan produksi minyak kernel sawit( crude palm kernel oil/ CPKO), total pasokan naik dari 51, 11 juta ton jadi 52, 68 juta ton.