Persiapan Pengusaha Logistik Pada Tahun Baru Imlek

46

Bagaimana Persiapan Pengusaha Logistik Pada Tahun Baru Imlek? Tahun baru Imlek ialah salah satu perayaan besar di China serta diganjar libur panjang, yang dimanfaatkan sebagai waktu saling berkunjung buat keluarga. Dengan libur nasional, aktifitas ekonomi, termasuk pelayanan publik akan melambat sebab staf yang bekerja juga sedikit. Banyak pabrik serta pusat pemerintahan tutup sepanjang libur Imlek. Sedangkan pelabuhan serta kepabeanan beroperasi dengan minimum staf, serta cuma fokus pada komoditas prioritas. Lalu, gimana akibatnya untuk para pelau logistik di Indonesia?

Pada momentum Tahun Baru Imlek para pengusaha pelaku logistik sudah mempersiapkan diri menghadapinya yang diiringi dengan pertumbuhan kinerja.

Para pelaku bisnis logistik memprediksikan aktifitas ekspor- impor pada saat awal tahun kembali menggeliat didorong oleh momentum Tahun Baru Imlek.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik serta Forwarder Indonesia( ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi yang bersumber dari bisnis. com menuturkan kalau sampai saat ini perkembangan kegiatan ekspor- impor telah mulai dirasakan semenjak memasuki awal 2022.

Yukki lebih lanjut menarangkan kalau terlebih apabila mengacu kepada data BPS, Nilai ekspor RI sampai akhir tahun yang kemudian mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

” Jadi harapannya masih optimistis pada 2022 ini pun dapat tetap tumbuh.[Kondisi ini] diprediksi akan terus berlangsung sampai Tahun Baru Imlek,” ucapnya, Senin( 24/ 1/ 2022).

Kedaan kepadatan kegiatan di beberapa pelabuhan di Indonesia. Apalagi, jalur distribusi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara nyaris tiap harinya tidak luput dari kemacetan. Perihal ini jadi Penanda pertumbuhan ekspor yang terjalin sejak awal Januari 2022.

Lebih lanjut Yukki menambahkan, bersumber pada data yang diperoleh ALFI, pelabuhan yang lain seperti di Semarang Jawa Tengah, Surabaya Jawa Timur, Belawan Sumatra Utara serta Makassar pula cenderung hadapi peningkatan kegiatan ekspor dan pula impor menjelang hari raya Imlek tersebut.

Baca Juga :  Jelang Imlek, Ekspor- Impor Terkerek Tinggi

Tetapi, bergeraknya kegiatan ekspor masih dihadapkan kepada permasalahan biaya logistik yang lumayan tinggi di beberapa tujuan Amerika Serikat ataupun Eropa lantaran terkendala slot kapal container yang terjadi semenjak tahun lalu. Baginya, apabila ongkos pengapalan ataupun freight container ekspor ke beberapa negara tujuan seperti Amerika Serikat serta Eropa terus hadapi peningkatan serta tidak dapat dikendalikan seperti saat ini, malah akan berakibat negatif untuk kelangsungan perdagangan secara global, bukan cuma di Indonesia.

” Memanglah terdapat peningkatan ekspor pada 2021, ialah komoditi migas dan nonmigas serta terus kita lihat lagi gimana dengan komoditi batu bara serta CPO.

Setelah itu untuk yang ekspor memakai container seperti manufaktur electronik, automotive, furniture, textile, sepatu, dan komoditi makanan minuman. Ekspor untuk kendaraan pula mengalami kenaikan pada tahun lalu,” jelasnya.

Bersumber pada informasi Badan Pusat Statistik( BPS) kalau secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Desember 2021 menggapai US$231, 54 miliyar ataupun naik 41, 88 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Demikian pula ekspor nonmigas menggapai US$219, 27 miliyar ataupun naik 41, 52 persen. BPS merilis, bersumber pada sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Desember 2021 naik 35, 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020, demikian pula ekspor hasil pertanian naik 2, 86 persen serta ekspor hasil tambang serta yang lain naik 92, 15 persen. Ada pula bagi provinsi asal benda, ekspor Indonesia terbanyak pada Januari–Desember 2021 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$33, 86 miliyar( 14, 62 persen), diiringi Kalimantan Timur US$24, 32 miliyar( 10, 50 persen) serta Jawa Timur US$23, 00 miliyar( 9, 94 persen).

Adapun, buat impor pada 2021, bersumber pada data BPS menyebutkan, bagi golongan penggunaan barang, nilai impor Januari–Desember 2021 terhadap periode yang sama tahun tadinya terjadi kenaikan pada barang konsumsi US$5. 529, 5 juta( 37, 73 persen), bahan baku/ penolong US$44. 174, 2 juta( 42, 80 persen), serta barang modal US$4. 924, 1 juta( 20, 77 persen).

Baca Juga :  ALI Optimistis Sektor Logistik Tumbuh 2 Digit pada 2022

3 negara pemasok barang impor nonmigas terbanyak sepanjang Januari–Desember 2021 merupakan Cina US$55, 74 miliyar( 32, 66 persen), Jepang US$14, 61 miliyar( 8, 56 persen), serta Thailand US$9, 08 miliyar( 5, 32 persen). Impor nonmigas dari Asean US$29, 31 miliyar( 17, 17 persen) serta Uni Eropa US$10, 97 miliyar( 6, 43 persen).